Pengelolaan Pesantren: Managemen Makan Santri


Dalam mengelola pesantren, ada beberapa kebutuhan dasar yang harus dipenuhi, biasanya disingkat dalam 3 UR: dapUR, kasUR, sumUR, kali ini saya akan membahas masalah DAPUR sesuai pengalaman penulis di Pesantren dulu.
Penulis meneliti setidaknya ada 4 jenis managemen makan yang biasa digunakan pesantren atau boarding school, akan dipaparkan berikut kelebihan dan kekurangannya:

1. Tanpa Dapur


Santri salaf sedang memasak


Managemen makan yang pertama ini biasa terjadi di pesantren salafiyah, dimana pesantren tidak menyediakan makan, santri memasak dengan mandiri atau belanja dari warung makan sekitar.

Kelebihan:
   a. pesantren tidak usah disibukan oleh urusan makan santri
   b. santri salaf lebih mahir memasak karena jam terbang memasak yang tinggi
   c. memberikan ladang rezeki pada masyarakat sekitar yang membuka warung makan
Kekurangan:
   a. dapur pesantren biasanya terlihat kumuh karena santri yang masak sendiri di dapur pesantren
   b. santri lebih sedikit waktu belajarnya karena disibukan dengan memasak
   c. pesantren ini jarang dilirik oleh orangtua santri perkotaan kecuali pesantren yang sudah punya nama besar

2. Dapur Umum
Sistem makan ini yang biasanya digunakan di Pondok Modern seperti Gontor-Ponorogo, Darunnajah-Jakarta, dan pesantren modern lainnya,

Ciri-ciri:
a. terdapat loket pembagian makan
b. terdapat meja dan kursi panjang yang disediakan untuk tempat makan
c. menggunakan kupon makan yang dibagikan sebulan sekali untuk menjaga santri makan dua kali

Kelebihan:
  • biaya makan bulanan terhitung murah, untuk biaya tahun 2016 saja dari dua tempat berbeda Gontor-Ponorogo mematok biaya Rp.310.000(3x sehari@Rp.3.400an) perbulan untuk biaya makan, mungkin ada yang beranggapan, kan kalau jawa apalagi ponorogo, untuk makanan memang murah-murah, tunggu dulu. kita meluncur ke Jakarta, Darunnajah jakarta, tidak berbeda jauh dengan Gontor, Darunnajah hanya mematok biaya Rp.345.000(3x sehari@Rp.3.800). Penyebab biaya murah ini karena menu makanan yang disajikan sangat sederhana, hanya hari-hari tertentu saja yang menunya spesial, itupun paling maksimal ayam goreng atau ikan goreng, ditambah dapur umum ini tidak mengambil keuntungan sama sekali (nirlaba/nonprofit) kecuali gaji karyawan yang masak saja.karena biayanya murah, maka jarang sekali pesantren dapat komplain atau keluhan dari orangtua santri berkaitan menu makanan ataupun pelayanannya, ditambah pesantren sudah menyediakan alternatif bila ada santri yang ingin meningkatkan kualitas makanannya, bisa dengan membeli lauk pauk saja, atau membeli di warung makan yang telah disediakan pesantren, dua hal inilah yang jadi fokus pesantren untuk menjadi sumber pemasukan pesantren
  • Membiasakan santri untuk antri, karena pesantren menekankan pendidikan akhlak, apa yang dilakukan santri didalam maupun diluar kelas harus menjadi pendidikan, termasuk dalam makan, budaya antri mutlak ditanamkan.
  • melatih kepemimpinan santri, pengelola dapur biasanya ditunjuk dari santri atau ustadz pengabdian yang bertugas mengelola keuangan dan membagikan makanan pada santri lain, walaupun tetap ada karyawan yang bertugas memasak dan membeli bahan masakan
  • Kemudahan mengambilkan makan santri yang sakit, apabila ada santri yang sakit, temannya ataupun piket bisa langsung mengambilkan makan dengan piring santri yang sakit, tanpa takut kehabisan, asalkan datang pada waktunya
  • Biaya bulanan Gontor-Ponorogo
biaya bulanan Darunnajah-Jakarta



Kekurangan:
  • Membutuhkan ruangan yang luas untuk meja dan kursi, Gontor membangun dapur 2 tingkat sedangkan Daarunnajah mengkosongkan lantai pertama tiap asrama untuk dijadikan dapur
  • Membutuhkan waktu yang lebih lama, karena sistem antrian ini setiap orang minimal membutuhkan waktu 2 menit untuk mendapat jatah makan, maka apabila pos pembagian sedikit bisa dipastikan waktu akan sangat lama.
  • Membutuhkan orang yang lebih banyak, setiap pos minimal membutuhkan 2 orang pembagi, pertama nasi yang kedua lauk pauk, maka kalau pembagi mengandalkan karyawan, maka cost untuk honor pasti akan membengkak, maka disarankan untuk pembagi ini dikaryakan pada santri sebagai pendidikan
  • Menu makanan sangat sederhana, bahkan yang dirasakan penulis, setiap pagi menu hanya nasi, sambal dan kerupuk.

3. Catering




Sistem makan yang ketika ini yang sedang jadi trend di sekolah-sekolah Boarding School bahkan tidak jarang pesantren membuat unit usaha tersendiri untuk mengurus makan santri.
Kelebihan:
  • tidak memerlukan tempat yang luas bahkan teras asrama bisa digunakan, ini karena biasanya makanan catering sudah dimasukan kedalam box makanan ataupun tempat-tempat terpisah
  • menu makanan lebih baik dibandingkan menu dapur umum karena harganya pun berbeda jauh
  • dapat menjadi sumber pemasukan yang besar bagi pesantren untuk kelancaran operasional.
  • waktu lebih sedikit karena santri sudah langsung dapat jatahnya masing-masing
  • tidak perlu orang yang banyak, hanya bagian masak dan pengiriman
Kekurangan:
  • harga jauh lebih mahal dibandingkan dapur umum, kisaran tahun ini mulai Rp.800.000(3x sehari,Rp.8.800an) sampai Rp.1jutaan atau bahkan lebih, karena ada beberapa boarding yang tidak mencantumkan uang makan(semua disatukan biaya bulanan), maka jangan heran beberapa sekolah boarding biaya bulanan cenderung tinggi.
  • menu kadang tidak sesuai harapan sehingga sering dijadikan bahan komplain orangtua maupun santri, mungkin karena merasa sudah membayar jumlah yang tidak sedikit sehingga ekspektasinya pun tinggi.
  • tidak ada pendidikan antri, santri biasanya makan bersamaan karena sudah punya jatah masing-masing
  • sulit mengambilkan santri yang sakit, apabila ada santri yang sakit, maka dibutuhkan sistem yang kuat berkenaan dengan pelaporan pada pihak catering agar santri yang sakit dipisahkan.

Itulah beberapa sistem makan di pesantren yang penulis teliti, tetapi bila ditanya lebih memilih yang mana yang cocok diterapkan di boarding school, maka penulis akan memilih sistem yang kedua dengan alasan:
  1. meminimalisir komplain orangtua, artinya membangun nama baik pesantren ke arah lebih baik
  2. santri belajar hidup sederhana untuk mengikis jiwa-jiwa manja ketika dirumah
  3. Pesantren tetap bisa membangun unit usaha yaitu warung makan dan warung lauk pauk sebagai sumber pemasukan
  4. sistem ini sudah digunakan pesantren yang usianya sudah puluhan tahun, dan memiliki nama besar, artinya mereka sudah merasakan asam garam pengalaman, kenapa tidak kita meniru mereka tanpa harus merasakan asam garam yang pernah mereka alami.
terakhir, tidak ada sistem makan yang salah, semuanya memiliki kelebihan dan kekurangan, artikel ini bertujuan untuk memberikan gambaran kepada para pengelola pesantren ingin sistem makan yang mana yang cocok diadaptasi.

Sumber Gambar:
gontor.ac.id
darunnajah.com

Share on Google Plus

About dzulfiidris

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment